KMPLHK RANITA

cropped-cropped-Logo-RANITA-01.png
Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan

PERINGATI HKBN 2019, KMPLHK RANITA MENGAJAK SMA TRIGUNA UTAMA UNTUK LEBIH SIAGA

    KMPLHK RANITA UIN Jakarta kembali ikut berpartisipasi pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) pada tahun ini. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat 3 Mei 2019 di Sekolah Menengah Atas (SMA) di sekitar kampus UIN Jakarta, yakni SMA Triguna Utama. Materi yang di paparkan kali ini mengenai kesiapsiagaan gempa bumi di gedung bertingkat sekaligus melakukan simulasi evakuasi mandiri.

      RANITA sendiri sebagai UKM di UIN Jakarta yang fokus pada lingkungan dan kemanusiaan, termasuk di dalamnya ikut andil dalam kebencanaan. Hal ini menjadikannya memiliki tanggungjawab tersendiri untuk memberikan edukasi kepada masyarakat termasuk mengenai pengurangan risiko bencana. “Tujuan kami mengadakan kegiatan ini salah satunya sebagai keikutsertaan dalam peringatan HKBN 2019. Selain itu untuk memberikan kapasitas pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana kepada pelajar, terutama siswa-siswi SMA Triguna”, ungkap Dewita selaku kepala bidang Disaster Management.

          Kegiatan ini melibatkan 70 orang siswa kelas XI IPA dan IPS. Mereka diberikan materi mengenai gempa bumi termasuk hal-hal yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi, sekaligus praktik untuk berlindung diri ketika di dalam kelas. Selnjutnya melakukan simulasi evakuasi mandiri menuju titik kumpul ke tempat yang lebih aman dari ancaman bahaya, yang mana digiring ke tempat yang lapang dan jauh dari bangunan. “Teman-teman pada nerima dan antusias sama kegiatan ini. Dan kami jadi tahu gimana caranya bisa selamat kalau terjadi gempa”, kesan Atalah Ramadhan dari kelas XI IPS.

         Selain memaparkan mengenai gempa bumi, RANITA juga memberikan informasi mengenai potensi bencana di Tangerang Selatan. Salah satunya gempa bumi yang berdasarkan BPBD Kota Tangerang Selatan memiliki potensi yang tinggi. Yulia, siswi dari kelas XI IPA menjelaskan bahwa ia sebelumnya menganggap gempa bumi hanya besar kemungkinan terjadi di daerah luar seperti Palu dan Lombok. Namun setelah mengikuti kegiatan ini, ia menjadi tahu bahwa Tangsel sendiri punya potensi gempa yang cukup tinggi, ditambah lagi dengan banyaknya gedung-gedung bertingkat yang bisa membuat jumlah korban dan kerugian semakin besar.

Perlu adanya pengetahuan untuk mengetahui potensi bencana di wilayah tempat tinggal sendiri, oleh karena itu harus dilengkapi juga dengan pengetahuan untuk menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. “Kegiataan ini sangat bermanfaat, dari kami yang tidak tahu menjadi tahu. Aku pribadi sih dan yang aku tahu juga mayoritas orang-orang kalau terjadi gempa itu refleks pada lari, padahal itu tidak boleh. Semoga kegiatan seperti ini bisa dilaksanan kembali agar kita tahu harus seperti apa ketika terjadi bencana”, jelas Yulia.

        Atalah juga menambahkan dengan adanya kegiatan ini ia dan teman-temanya menjadi tahu bagaimana caranya mengevakuasi diri dari gedung bertingkat ketika terjadi gempa bumi menuju titik yang lebih aman dengan mengikuti arahan-arahan yang telah diberikan sebelumnya.

       Pak Dani selaku bagian Kesiswaan SMA Triguna mengakui bahwa di sekolah tersebut mendapatkan surat edaran dari Kemendikbud untuk melakukan simulasi evakuasi mandiri, namun belum bisa terlaksana karena beberapa hal. “Mengenai kegiatan ini kami sambut dengan baik, karena sebelumnya memang ada surat edaran untuk melakukan kegiatan seperti ini, tapi belum terlaksana. Saya harap RANITA dan SMA Triguna bisa menjalin kerjasama kembali untuk melaksanakan kegiatan seperti ini dan kalau bisa secara periodik agar semua siswa bisa paham akan kesiapsiagaan mengenai bencana tidak hanya teori namun dengan praktik juga”, jelasnya.

       “Semoga dengan dilaksanakannya kegiatan ini masyarakat Indonesia khususnya pelajar bisa lebih tangguh terhadap bencana. Serta kesiapsiagaan masyarakat mengenai bencana bisa menjadi budaya dan kesadaran tersendiri”, tambah Dewita.

    Paradigma mengenai penanggulangan bencana di Indonesia menganggap bahwa penanggulangan bencana dilakukan dengan perspektif responsif yaitu hanya pada saat terjadi bencana saja, namun setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada 26 April, paradigma tersebut telah berubah menjadi tindakan preventif yakni dilakukan penanggulangan sebelum terjadi bencana. Oleh karena itu sangat penting bagi kita semua untuk melakukan pencegahan pengurangan risiko bencana, terutama keselamatan diri sendiri.


Alfiah “Cendai” Nurul Zakiyah, Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN JAkarta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *