KMPLHK RANITA

cropped-cropped-Logo-RANITA-01.png
Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan

KEANEKARAGAMAN HAYATI FAKTOR UTAMA PENUNJANG KEHIDUPAN MANUSIA

Keanekaragaman Hayati atau disingkat kehati merupakan semua makhluk hidup yang ada di bumi, termasuk semua jenis tumbuhan, binatang dan mikroba. Dimana semua saling berkaitan dan membutuhkan satu sama lain untu menunjang sebuah sistem kehidupan. Kehati merupakan komponen penting dalam keberlagsungan bumi dan isinya, termasuk ekistensi manusia.

Tanggal 29 desember 1993 pertama kali diperingati sebagai hari keanekaragaman hayati PBB, bertepatan dengan pelaksanaan konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati (COP – Convention on Biological Diversity). Namun pada Desembaer 2000 PBB mengadopsi tanggal 22 Mei sebagai hari internasional untuk keanekaragaman hayati (The international for Biological Diversity) karena bertepatan dengan liburan akhir tahun Internasional. Tanggal 22 Mei merupakan tanggal pengesahan teks keepkatan Keanekaragama yang diadakan di Nairobi, Kenya pada tahun 1992 yang kemudian menghasilkan UN Convention on Biological Diversity.

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Dunia setelah Brazil da Kongo dengan 74 tipe ekosistem yang khas dan kompleks. Didalamnya mencakup 150.000 lebih jenis flora dan 280.000 lebih jenis fauna menurut data BAPPENAS terhitung sampai tahun 2015, itu belum termasuk jenis mikroba dan algae serta jenis-jenis lain yang masih belum teridentifikasi di seluruh penjuru Indonesia. Dengan begitu kayanya kenakeragaman hayati yang ada di Indonesia, itu menjadi aset yang sangat perlu untuk dilestarikan.

Selain kekayaan hayati yang sangat melimpah, Indonesia juga memiliki keunikan pada kondisi geologi, yang menyebabkan tingginya endemisitas flora, fauna dan mikroba. Bahkan menurut LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) beberapa kelompok seperti burung, mamalia dan reptile memiliki endemisitas tertinggi di dunia. Spesies fauna endemik Indonesia antara lain 270 spesies mamalia, 386 spesies burung, 328 spesies reptile, 204 spesies amphibia, 280 spesies ikan.

Manfaat dan Pentingnya Keanekaragaman Hayati

Di bentang alam yag sangat luas ini, makhluk sepele yang dianggap tidak mempunyai arti penting apa-apa, bisa jadi ternyata mempunyai fungsi dalam menghidupkan mata rantai ekologis yang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan ekosisitem dan kehidupan manusia. Selain itu keanekaragaman hayati mempunyai manfaat yang besar untuk menunjang segala aspek kehidupan yang ada, termasuk manusia yang ada didalamnya, antara lain yaiu:

  1. Meningkatkan produktifitas ekosistem dari mulai spesies terkecil sampai yang paling besar. Dimana setiap spesies mempunyai peran penting dalam ekosistem tersebut. Sebagai contoh, banyaknya jumlah spesies tanaman maka memiliki banyak potensi obat-obatan, mengurangi dampak pemanasan global, sebagai sumber makanan
  2. Kekayaan aneka ragam spesies menjamin keberlajutan alam untuk mendukung semua bentuk ekosistem, termasuk manusia didalamnya. Dan dapat mengurangi resiko berbagai bencana alam, seperti pohon bakau dalam mencegah atau mengurangai dampak abrasi dan tsunami.
  3. Keragaman hayati yang baik menyediakan aset alam bagi manusia. Seperti sumber daya air, perlindungan tanah dari longsor dan banjir, penyimpanan nutrisi tanah, menyerap zat pencemar lingkungan seperti CO2, menjaga stabilitas iklim.
  4. Terkelolanya keanekaragaman hayati menjadikan sumber daya alam yang melimpah, baik untuk pengobatan, tanaman hias, sumber daya ikan, pertanian, wisata alam, pendidikan dan lain sebagainya.
  5. Kelestarian aneka ragam hayati menjadikan identitas ekosistem yang khas dan unik sebagai daya tarik wisata dan dapat meningkatkan aset ekonomi dalam suatu wilayah.
  6. Keanekaragaman hayati menunjang ketahanan dan kedaulatan pangan yang ramah lingkungan dan sehat. Hal itu mendorong kesejahteraan masyarakat dan membantu pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SGDs).

Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup secara otomatis akan menurunkan jumlah keanekaragaman keanearagaman dan sumber daya hayati. Pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan kehidupan manusia. Oleh karenanya, perlu adanya pencegahan serta penanggulangan kerusakan aneka ragam hayati tersebut.

Salah satu pendekatan pencegahannya yaitu dengan konservasi sumber daya alam yag tepat, yang merupakan metode pendekatan integral guna melestarikan keragaman hayati. Dalam beberapa cara atau bentuk, budaya memiliki akar dan hubungan erat dengan keragaman hayati. Pemanfaatan keragaman hayati melekat erat dalam sejarah peradaban manusia, terbukti dari kearifan lokal masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan keragaman hayati sebagai sumber penghidupan petani, nelayan, dan para tabib yang mengambil obat-obatan herbal.

Selain itu, konsep pembangunan berkelanjutan juga menjadi agenda yang sangat penting, guna menjaga kelangsungan ekosistem agar tetap lestari sampai generasi yang akan datang. Karena keanekaragaman hayati akan tetap terjaga selama manusia dapat menjaganya. Selain pembangunan berkelanjutan, banyak hal lain yang dapat dilakukan oleh manusia diantaranya melakukan edukasi, sosialisasi maupun pembuatan dan pelaksanaan Undang-Undang yang mengarah pada pelestarian keanekaragaman hayati yang ada.

Segala kekayaan alam menjadi faktor utama keberlangsungan hidup manusia. Oleh karenanya, berkurangnya keanekaragaman hayati sama artinya dengan menipisnya sumber daya alam yang berimbas pada meningkatnya resiko ancaman keberlangsungan pada kehidupan manusia. Maka dari itu menjaga keanekaragaman hayati menjadi sangat penting, termasuk tidak melakukan pengerusakan terhadap lingungan dari mulai hal terkecil, seperti membuang sampah sembarangan, pengunaan listrik dan air secara berlebihan, pemakaian plastik yang berlebihan dan lain sebagainya.

Keberlangungan alam menjadi faktor keberlangsungan manusia. Tapi keberlangsungan manusia justru seringkali menjadi faktor kerusakan alam. alam dapat hidup tanpa manusia, tapi apakah manusia dapat hidup tanpa alam? Wallahu A’lam

Oleh Solehuddin “Nabe” Sumaeri, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *