KMPLHK RANITA

cropped-cropped-Logo-RANITA-01.png
Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan

Giat RANITA Menangkal Tsunami dengan Pohon Butun

Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) RANITA UIN Jakarta melakukan respon pada bencana tsunami yang menerjang selat sunda pada sabtu (22/12/2018) dengan mengirimkan beberapa relawan guna melakukan evakuasi dan penanganan darurat lainnya.

Tsunami yang terjadi di selat sunda desember silam disebabkan karena terjadi longsoran pada lereng gunung anak krakatau akibat aktivitas vulkaniknya yang menimbulkan gelombang tinggi bersamaan dengan terjadinya bulan purnama sehingga menyebabkan gelombang lebih tinggi yang kemudian menerpa sepanjang pesisir banten.

KMPLHK RANITA kembali hadir merespon bencana selat sunda pasca tanggap darurat selesai dan beralih ke tahap rekonstruksi dan rehabilitasi. RANITA membuat program mitigasi bencana berupa sosialisasi mitigasi bencana Tsunami dan penanaman pohon disepanjang bibir pantai pada Sabtu (23/06/2019) tepatnya di Kp. Paniis Desa. Cimenteng Kec. Sumur, Banten. Diikuti oleh peserta sebanyak 120 orang yang terdiri dari beberapa warga Kp. Paniis dan siswa siswi SMPN 4 Cigeulis.

Acara ini diselenggarakan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fisik dan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tsunami. Hal yang dilakukan RANITA adalah memaparkan dan menjelaskan risiko bencana di daerah Kp. Paniis, kemudian dilanjutkan dengan menyampaikan langkah-langkah kesiapsiagaan bila sewaktu-waktu tsunami terjadi, mensosialisasikan tas siaga bencana dan melakukan penanaman pohon Butun guna memecah gelombang tsunami bila sewaktu-waktu kembali menerjang pantai di Kp. Paniis.

Tanaman Butun atau biasa disebut Keben banyak tumbuh di pesisir pantai wilayah tropis, merupakan tanaman asli Indonesia. Butun merupakan sebutan orang orang sunda untuk tanaman Barringtonia asiatica Kurz. Tanaman ini memiliki batang yang kuat, terbukti dari paparan Bapak Ramli (KIPKA): ” kejadian tsunami kemarin menumbangkan seluruh pohon terkecuali pohon Butun”. Hal ini yang mengantar kami memilih pohon Butun sebagai tanaman pemecah gelombang untuk menangkal tsunami.

Program ini sangat diapresiasi oleh beberapa pihak diantaranya oleh Bapak Omo ketua RT 02 Kp. Paniis, beliau berkata: ” terimakasih banyak kepada RANITA karena sudah memperdulikan kami dengan menyelenggarakan penanaman pohon butun ini, saya harap kedepannya bisa bekerjasama lagi” ditambahkan pula Bapak Ramli ” Saya harap kerjasama bisa terus terjalin dan kita bisa berkolaborasi untuk langkah – langkah pelestarian lingkungan dalam mencegah tsunami”.

Program penanaman pohon Butun diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko bencana tsunami yang berada di pesisir Kp. Paniis. ”Diharapkan pohon Butun yang ditanam dapat memecah gelombang tinggi bila tsunami datang dan bisa mencegah abrasi” tegas Bahrul Ulum ( ketua umum KMPLHK RANITA).

Tak hanya melakukan tindakan mitigasi, RANITA juga telah membangun sebuah jembatan di Desa Cimenteng yang diresmikan pada minggu (23/06/2019). Pembangunan jembatan ini diinisiasi RANITA dan warga Desa Cimenteng guna memudahkan warga melakukan evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi bila tsunami kembali terjadi. Seluruh kegiatan ditutup dengan santap siang bersama peserta dan warga Desa Cimenteng sebagai wujud rasa syukur telah selesainya pembangunan jembatan.

Dewasanya pemuda harus turut andil dalam mewujudkan ketangguhan Indonesia dalam menghadapi bencana. Salah satunya adalah dengan berbagi pengetahuan dan tindakan-tindakan preventif dalam upaya mengurangi risiko bencana yang perlu disebarluaskan. mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana jauh lebih penting dibanding dengan hanya memperbaiki setelah terjadi bencana.

Penulis: Lien Sururoh

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *